Cireng Manja: Jajanan Kaki Lima Menyita Perhatian Mahasiswa UMSU
Cireng Manja: Jajanan Kaki Lima Menyita Perhatian Mahasiswa UMSU
Fenomena Cireng Manja tak bisa diabaikan di kalangan mahasiswa Universitas
Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). Jajanan kaki lima yang dulunya dianggap
sederhana ini kini menjelma menjadi ikon kuliner kampus yang menarik perhatian,
Selasa (17/06/2025).
Menurut Cut Clarissa Laybah Rossa, mahasiswi Ilmu
Komunikasi UMSU, daya tarik utama Cireng Manja terletak pada rasanya yang lezat,
isian yang beragam dan melimpah, serta harga yang sangat terjangkau.
"Rasanya
sangat enak dan isi nya banyak, ukuran cireng manja juga cukup besar sehingga
mengenyangkan," ujarnya.
Senada dengan Clarissa, Vina, pemilik Cireng Manja,
mengungkapkan bahwa keunggulan produknya ada pada cita rasa yang khas dan
penyajian hangat.
"Cireng Manja mempunyai banyak varian mulai dari keju, ayam
suir pedas, jando, coklat, dll. Cireng Manja disajikan dalam keadaan hangat dan
dimakan dengan saus nya yang khas pedas asam," jelasnya.
Ia juga menekankan
komitmennya menjaga kualitas dan kebersihan, meskipun beroperasi sebagai kaki
lima, demi kenyamanan dan kepuasan pembeli. Harga Rp2.000/pcs menjadikan Cireng
Manja sangat digemari, bahkan mendorong pembeli untuk kembali lagi dan
merekomendasikannya kepada teman-teman.
Dr. Dewi Andriani, S.E., M.M., Ketua Puskibi UMSU, menanggapi hal ini.
Menurutnya, popularitas Cireng Manja merupakan kombinasi kuat antara harga
murah, rasa yang menggugah selera, dan promosi digital yang efektif.
"Mahasiswa
zaman sekarang sangat responsif terhadap tren di media sosial, sehingga jajanan
sederhana pun bisa cepat viral dan diminati," ungkap Dewi.
Cireng yang dulunya
hanya dikenal sebagai aci di goreng kini telah berevolusi. Clarissa melihat
cireng sebagai jajanan sederhana yang bisa populer berkat peran media sosial
dalam membuat masyarakat mengenal variasi cireng yang baru.
“Media sosial
tentunya mengambil peran penting dalam mengangkat kembali citra jajanan
tradisional, dengan adanya media sosisal masyarakat tahu cireng sudah
berinovasi,” imbuhnya.
Vina menjelaskan bahwa modifikasi cireng dengan berbagai
isian seperti keju, dan ayam suir pedas membuatnya lebih menarik bagi semua
kalangan. Ia sangat merasakan dampak positif media sosial.
"Banyak orang yang awalnya tidak tahu menjadi tahu dan tertarik karena lihat
review atau video TikTok," katanya.
Dewi Andriani juga menyoroti proses adaptasi pasar yang dilakukan Cireng Manja.
"Dari jajanan tradisional aci di goreng tanpa isian, kini berevolusi dengan berbagai isian dan saus yang menarik," jelasnya. Ia menambahkan bahwa inovasi produk yang dibarengi strategi konten di TikTok dan Instagram menjadi kunci menghidupkan kembali citra makanan tradisional menjadi modern dan menarik.
Vina menyarankan para pelaku UMKM untuk memulai dari kecil tetapi konsisten, fokus pada rasa dan pelayanan.
"Jualan kaki lima itu
bukan halangan asal kita punya ciri khas," tegasnya. Ia sangat berharap adanya
dukungan modal, pelatihan, dan perizinan yang dipermudah dari pemerintah agar
UMKM bisa berkembang dan bersaing.
Dewi Andriani menekankan pentingnya dukungan
pemerintah, mulai dari pelatihan, akses modal, hingga penguatan infrastruktur
pasar.
"Regulasi harus melindungi pelaku UMKM mulai dari penetapan zonasi usaha,
kemudahan izin, dan promosi UMKM lokal agar usaha kecil bisa bertahan dalam
jangka panjang” pungkasnya.
Editor : Dr. Muhammad Thariq, M.I.Kom
Tim Peliput
dan Penulis :
-De Ajeng Nurul Maharani Harahap (2303110244)
-Intan Nurkamil
(2303110084)
-Annisa (2303110274)


Comments
Post a Comment